Lewat Nobar Film Sejarah 'Rengat 1949', NasDem Riau Dorong Generasi Muda Kenal Perjuangan Bangsa Nobar Film Sejarah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 21:03:32 WIB
Partai NasDem Riau menyatakan apresiasi tinggi terhadap karya film sejarah “Rengat 1949” /ist

PEKANBARU, LIPO – Partai NasDem Riau menyatakan apresiasi tinggi terhadap karya film sejarah “Rengat 1949” yang dibuat oleh Fitra Asrirama.

Film yang ditayangkan di Gedung Anjung Seni Idrus Tintin itu dinilai mampu menghidupkan kembali kisah perjuangan bangsa, khususnya bagi generasi muda.

Ketua Bapilu DPW NasDem Riau, Dedi Harianto Lubis, menegaskan bahwa film tersebut merupakan karya yang layak diapresiasi karena mengangkat kembali sejarah perjuangan yang penting untuk terus diingat.

“Ini merupakan sebuah karya yang patut kita apresiasi. Sejarah di republik ini perlu terus diulang, terutama bagi generasi muda, agar mereka mengetahui dan memahami cerita perjuangan yang terjadi sebelum masa kita saat ini,” kata Dedi, Sabtu (20/6/2026).

Menurut Dedi, kegiatan seperti nonton bareng (nobar) dan bedah film menjadi cara efektif dalam memberikan edukasi politik dan kebangsaan dengan pendekatan yang berbeda.

Ia juga menyebutkan bahwa proses pembuatan film tersebut tidaklah singkat. Berdasarkan informasi dari kreator, film ini digarap dengan riset mendalam selama kurang lebih satu tahun.

“Partai NasDem sangat mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari peran politik dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Kami berharap ke depan Kesbangpol Riau juga dapat terus mensupport kegiatan seperti ini,” tambahnya.

Dedi menilai, melalui film ini masyarakat kembali diingatkan akan perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan banyak hal demi kemerdekaan Indonesia.

“Kita diingatkan kembali bagaimana perjuangan para pahlawan yang membuat kita bisa menikmati kehidupan hari ini dengan nyaman,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada kreator film, Fitra, dan berharap ke depan dapat terus menghasilkan karya film sejarah lainnya dari berbagai daerah.

“Kami berterima kasih atas karya ini. Dalam kegiatan ini juga akan hadir pembedah film, termasuk saksi sejarah dan keluarga pahlawan yang terlibat langsung dalam peristiwa Rengat 1949,” ungkapnya.

Sementara itu, Analis Kebijakan di Kesbangpol Riau, Tengku Hardiyan, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan nobar tersebut.

Ia menilai film ini memiliki nilai edukasi yang kuat, terutama dalam menghadapi tantangan generasi muda di era digital saat ini.

“Kegiatan ini sangat luar biasa. Film ini mampu menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Tengku Hardiyan juga menyampaikan bahwa Kesbangpol Riau memberikan dukungan kepada seluruh partai politik, termasuk NasDem, dalam bentuk bantuan keuangan kegiatan politik.

“Kerja sama ini berjalan dengan baik, dan kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut sebagai bentuk edukasi kebangsaan kepada masyarakat,” tutupnya.

Sementara itu, Kreator film “Rengat 1949”, Fitra Asrirama, mengungkapkan alasan di balik penggarapan film sejarah tersebut saat sesi bedah film. Ia menilai peristiwa Rengat merupakan salah satu kejadian besar di Riau yang belum banyak diketahui generasi muda.

“Ini adalah peristiwa besar yang terjadi di Riau, tetapi masih banyak anak muda yang belum mengetahuinya. Itu yang membuat saya tertarik untuk mengangkatnya, agar generasi sekarang memahami bahwa sejarah kelam ini pernah terjadi, khususnya di Rengat,” ujarnya.

Dalam proses produksi, Fitra mengaku mengandalkan berbagai sumber literasi, mulai dari buku-buku sejarah perjuangan daerah Riau, kliping berita lama, hingga wawancara dengan para veteran dan keluarga korban. Salah satu narasumber yang dilibatkan adalah Panca, anak dari pejuang yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut.

Menurutnya, film ini bukan sekadar karya visual, melainkan catatan penting tentang kontribusi masyarakat Riau terhadap bangsa. Ia menegaskan bahwa ribuan nyawa menjadi korban dalam tragedi tersebut, sehingga sudah sepatutnya dikenang oleh generasi penerus.

“Ini adalah bagian dari sejarah yang harus kita ketahui bersama. Masyarakat Riau memiliki kontribusi besar untuk Indonesia, bahkan harus mengorbankan nyawa dalam jumlah yang tidak sedikit,” katanya.

Namun, Fitra juga mengakui bahwa tantangan terbesar dalam pembuatan film ini adalah keterbatasan sumber informasi langsung. Ia tidak menemukan lagi pelaku sejarah yang masih hidup dan benar-benar menyaksikan kejadian tersebut.

“Kami banyak mengandalkan data dari keluarga korban, veteran, serta buku-buku sejarah. Itu menjadi kendala utama karena minimnya saksi hidup,” jelasnya.

Selain itu, keterbatasan anggaran juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, tim produksi memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam proses pembuatan adegan.

“Penggunaan AI sangat membantu dari sisi biaya, tetapi tetap memiliki keterbatasan. Kadang hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, sehingga harus diulang berkali-kali,” ungkapnya.

Ia menambahkan, untuk menghasilkan satu adegan berdurasi 20 hingga 30 detik saja, proses pengerjaan bisa memakan waktu hingga lima jam demi mendapatkan hasil yang ??????????? dan mendekati peristiwa aslinya.

Melalui film “Rengat 1949”, Fitra berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mengenal sejarah daerahnya dan menghargai perjuangan para pendahulu.(***)

Tags

Terkini