Jum'at, 22 Juni 2018
Follow:
 
Fakhrunnas Terbitkan Cerpen 'Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian'

beye | Bandar Serai
Senin, 20/06/2016 | 13:51:04 WIB
Fakhrunnas MA Jabbar bersama sahabat Dheni Kurnia/FB
TERKAIT:
 
 
PEKANBARU (Lipo)-Sastrawan dan cerpenis Indonesia asal Riau, Fakhrunnas MA Jabbar segera menerbitkan buku cerpen keempat yang berjudul 'Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian'.

Buku ini memuat 16 cerpen-cerpen terbaru Fakhrunnas dengan setting dan nuansa Melayu Riau yang khas.

Buku ini setebal 160 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Tiraskita seharga Rp. 45.000 ditambah ongkos kirim bagi pemesan di luar kota Pekanbaru.

Fakhrunnas MA Jabbar kepada pers, baru-baru ini menjelaskan sebenarnya sudah lama rencana penerbitan buku Lembayung Pagi ini.

Namun karena berbagai kendala baru kesampaian di pertengahan tahun ini. Buku cerpen Lembayung Pagi, 30 Tahun kemudian dengan cover yang melankolik dan romantic dengan dominasi warna lembayung dirancang oleh pelukis, Ridar Hendri dan tata letak secara keseluruhan dikerjakan oleh Anthony Hary.

Fakhrunnas selanjutnya mengemukakan  keinginan agarmembukukan  cerpen-cerpen yang pernah ditulis dalam rentang waktu panjang sebelumnya pernah dimuat di Kompas, Suara Pembaruan, Kartini, Nova, Media Indonesia, Republika, Riau Pos, Jurnal Nasional, dan sebagainya.
"Oleh sebab itu, cerpen-cerpen yang terhimpun di dalamnya merupakan cerpen pilihan dengan tetap mempertahan kekhasan Melayu baik dari alur cerita, penokohan, setting tempat dan nilai-nilai spiritual Melayu, Riau, " kata Fakhrunnas.

Buku cerpen Lembayung Pagi, 30 tahun kemudian diambil dari salah satu cerpen berjudul sama yang pernah dimuat di Kompas Minggu beberapa tahun silam.

Selain cerpen tersebut, juga terdapat cerpen-cerpen lain di antara dengan judul  Lukisan Angsa, Lelaki Pertama yang Bersemayam di Rumah Rindu, Kemboja Merah di Pekarangan, Matahari Tak Terbit Pagi Ini, Buih, Ombak dan Sepenggal Tanya, Riwayat Kehormatan, Istana Tanpa Mahkota, Ketika Badai Tiba, Negeri Seribu Musim, Nguyen Fatimah atawa Kalau Aku Perahu, Kaulah Gelombang Itu, Nguyen, Bulan Jatuh di Orchard Road . Mimpi Maruti, Kuburan Masa Lalu, dan Pinang Merah di Halaman.

Menurut Fakhrunnas, buku cerpen Lembayung Pagi diedarkan dan dipasarkan melalui took buku dan media online. Bagi para peminat buku tersebut dapat memesannya melalui FB atas nama Fakhrunnas MA Jabbar I dan Fakhrunnas Jabar II, Kedaibuku Riau (milik Marhalim Zaini) atau dapat dipesan melalui email: fakhrunnas.majabbar@gmail.com.

Salah Satu Cerpen Di dalam Buku Ini.

Berikut dimuat cerpen Lembayung Pagi untuk dapat dinikmati sebagai representative dari cerpen-cerpen Fakhrunnas lain yang termuat di dalam buku. Nikmati kekhasan romantisme cerpen Fakhrunnas yang ditulis dengan bahasa yang cair, menarik dan bernuansa Melayu.

Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian

ANGIT warna-warni berlalu begitu saja. Dari waktu ke waktu selalu saja begitu. Kupetik sehelai awan pagi ini.

Lembayung warnanya. Dan setiap burung yang melintasi pagi yang sama, tiba-tiba warnanya jadi lembayung. Hujan turun pun berubah lembayung. Kusaksikan segenap alam yang mengepungku disesaki bayang-bayang lembayung. Perempuan berparas molek itu dalam usia  yang amat matang datang padaku membawa hati yang lembayung pula.

"Kau,.. desisku tertahan saat menatap perempuan berdarah Melayu itu pertamakali setelah setelah 30 tahun tak bersua. Telunjukku tiba-tiba layu saat sosoknya kian menyergam di antara tiupan angin dan kabut yang menderu.

Aku berkaca di bolamatanya yang bening. Masih begitu bening. Aku menatap diriku dalam tiupan angin petang bagai alunan gazal yang lembut. Sayatan biola tua yang mendayu-dayu. Aku merasa sudah begitu tua. Tapi sapa lembut perempuan berkulit kuning langsat itu bagai mengelupaskan kerutan-kerutan di keningku.

"Apa yang masih kau ingat?" bisiknya  dengan  irama rendah. Menyayat-nyayat.

Mataku kian terbuka lebar saat menyaksikan banyak lukisan, kata-kata, rekaman dan irama berloncatan dari bolamata perempuan bening itu. Tiap helaan napasku bagai memutar kenangan di sebuah layar seluloid yang usang. Warananya lembayung kecoklatan. Sudah terlalu lama rekaman-rekaman tersebut mengendap di bolamata itu.

Kutatap kedua bolamatanya bergantian. Perempuan itu tersenyum manis. Tapi kelopak matanya terasa agak lindap. Seolah-olah beban kenangan yang yang berloncatan dari bolamatanya memberi beban yang berat. Sorot matanya masih nyalang. Berbunga-bunga.

"Kusaksikan di bolamatamu, kita ada dalam pergumulan masa lalu yang tak kunjung diam. Kita berangkulan tiba-triba setelah lama berjauhan. Kita berpelukan tanpa birahi, " ucapku perlahan dan tertahan.

Perempuan itu tersenyum. Mengangguk beberapa kali. Bolamatanya mengisayaratkan sesuatu yang lebih dari sebuah sapaan mesra. Manja. Penuh pukau dan menyelam ke kedalaman jiwaku.

Aku jadi teringat Raja Aisyah dari kebesaran  Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat  karena maqam keperempuanannya. Perempuan masa laluku ini nyaris setara dengan itu di dalam kerajaan diriku. Tapi, masa lalu itu telah membancuhnya jadi kepingan-kepingan sejarah dan kata-kata yang tersisa.

Di lembayung pagi ini, 30 tahun kemudian, kami bersua.  Bak seekor burung yang bersayap lembayung pula terbawa angin yang mengantarkan dirinya  padaku.

Dan aku pun bagaikan sebuah ranting kayu mendedahkan diri tempat berhinggap bagi dirinya. Tentu saja, ia agak lelah karena bertahun-tahun terbang menembus gumpalan awan dan tabir masa silam yang tertinggal jauh.

Ia datang dengan masa lalunya. Aku pun menanti dengan sisa masa silam yang kian usang.

"Aku masih di sini, seperti dulu,"  ucapku setelah lebih satu jam kami saling meluahkan isi hati.

"Kau  begitu tegar menunggu, " balasnya.
"Apa kau datang memintal semua masa lalu itu?
Ia menggeleng.

"Aku hanya membawa sebagian masa lalu itu. Sebagian lagi, aku datang dengan sayap yang menerbangkan aku  jauh ke depan, " katanya penuh makna.

"Kepakkanlah sayap-sayap kecil itu," sambutku bahagia.
"Akankah kita terbang bersama?" ucapnya mengangkat alis kiri yang kian memperlihatkan kemanjaan yang pernah kurasakan di masa-masa yang sudah terlewati.
"Kau masih membawa serta kemanjaan itu.." kataku menunduk.
"Selalu.."

"Tapi kemanjaan itu tentu sudah tak utuh lagi. Sudah berbagi dengan masa lalumu."
"Tidak lagi utuh. Bagai burung, sayapku sudah patah sebelah. Bagai awan, sejuknya telah berderai-derai. Bagai angin, terpaannya tak sesakal dulu"

Tatapan mata kami begitu teduh. Begitu lembayung. Butir-butir airmata perempuan menepi di antara kelopak. Berderai di pipinya yang ranum. Jatuh satu-satu dihembuskan angin. Bagai tempias gerimis, butir airmata itu menyelam di genangan bolamataku yang terdedah sedari tadi. Airmata kami  bergumul di bolamataku. Hangat dan diam.

Apa yang terjadi dalam 30 tahun ini? tanyaku dalam hati. Tatapan matanya yang teduh menangkap tanda-tanya itu.  Ia menjawab tanpa ragu-ragu. Segalanya begitu bening. Bagaikan titisan gerimis yang jauh di sebuah telaga jernih yang menguraikan riak-riak kecil menjadi not angka dan nyanyian.

"Kau masih menyukai nyanyian Bahtera Merdeka?" tanya perempuan itu mengusap helai-helai rambutku yang mulai diselingi uban abu-abu.
"Iya.. masa lalu dan masa kini, sama saja bagiku"
"Kau begitu tunak atas sesuatu sejak dulu..
"Iya..seperti surat berisi pernyataan kasih yang pernah kulayangkan sepulang sekolah dulu. Pokok  johar di depan rumahmu itu masih menjadi saksi kan?
Giliran ia terpekur.
"Aku masih ingat semuanya. Sebuah kehampaan yang membuat hatimu terluka. Aku tak banyak tahu apa maknanya waktu itu. Aku  hanya seorang anak belia yang mudah memalingkan diri dari siapa saja. Aku merasa bagai seekor burung berbulu keemasan yang boleh terbang sesukanya. Dan aku tak pernah hingga di ranting mana pun. Aku hanya terbang dan terbang"

"Tentu kau sudah melupakan surat itu"
"Iya..aku terbang berjuta mil dari sebuah lorong ke lorong yang lain di langit itu"
"Iya, langit lembayung itu, bukan?

Ia mengangguk. Kemolekannya memukauku kembali. Kemolekan yang bertapis kematangan jiwanya. Ia memang sudah tidak mudah lagi.
"Aku pernah jadi pramugari di usia mudaku.," tuturnya mengenang.
"Kau telah terbang begitu jauh. Melintasi awan, langit, gunung, kenangan, batu, hujan, lelaki". dan
"Jangan sebut itu" tiba-tiba suaranya agak keras sambil meletakkan telunjuknya di bibirku. Aku terperanjat. Sentuhan lembut itu bagai menguliti diriku.
Kami sama-sama terdiam.

Ia bercerita tentang sisa masa lalunya. Ia pernah menikah dengan seorang lelaki kesayangannya. Lelaki yang gagah dan berpunya. Setara dengan seorang pramugari molek, anggun dan lembut. Ihwal kasih-sayang mereka tentulah menjadi bagian yang tak begitu dipertajamnya. Tapi aku bisa membayangkan bagaimana bahtera kebahagiaan telah melayarkan segala cita dan angannya yang bergerak dari pelabuhan masa lalu itu. Di bahtera itu ia dikarunai  anak lelaki. Anak yang selalu mewakili suaminya yang kini sudah menjadi masa lalunya pula.
Lelaki itu  wafat sepuluh tahun lalu.

"Aku kini sendiri lagi. Eh, maksudku, ada anakku yang menjadi tumpahan kasih satu-satunya" tuturnya mulai berterus terang.

"Aku amat bersimpati atas semua kejadian, kemalangan yang menimpa dirimu. Langit lembayung ini mewakili perasaanku..sambutku lemah-lembut.
"Ada ribuan  ranting membentang di pokok-pokok kayu. Takkah kau ingin berhinggap di salah satu ranting itu? ucapku agak  hati-hati dengan kalimat bersayap.

Ia merunduk. Diam. Aku menangkap jemarinya yang masih lembut. Kemudian ia tiba-tiba mengangkat dagunya. Menetapku dengan bolamata yang tetap bening.

"Aku datang ke sini, mencari jejak masa laluku. Banyak kenangan tertanam di sini, di kampung halaman ini"
"Aku juga meninggalkan jejak di sini. Tapi selalu saja, jejak kecil itu pupus tersiram ombak pantai. Kau masih ingat pantai landai berpasir putih, tempat kita bersama teman-teman sekolah dulu menghabiskan waktu liburan. Ada sejuta jejak di situ yang kini tak berbekas lagi"

"Aku rindu pantai, jejak kaki dan tiupan angin sakal Selat Malaka itu"

Giliranku bercerita soal perjalanan hidupku di sebuah kampung kecil di tepi pantai itu. Setamat kuliah aku kembali ke kampung halaman. Aku berkebun. Memelihara ternak. Aku ingin jadi peniaga besar, waktu itu. Tapi mimpi itu tak pernah kesampaian. Aku hanya jadi peniaga kampung., Cukup makan.

Aku hidup berkeluarga dengan seorang istri dan dua anakku. Keduanya sudah besar-besar. Sama-sama sudah menikah pula. Maklumlah, keduanya anak perempuan. Di sela-sela waktu berkebun dan berternak, aku menyempatkan jadi guru madrasah. Aku mewarisi ilmu agama itu dari emak dan ayah dulunya.

"Sekarang,? sela perempuan itu.
"Masih seperti itu. Selalu begitu. Aku bagaikan garis datar saja. Tak pernah bisa meninggi. Aku tak bisa terbang seperti dirimu"

"Setinggi-tinggi burung terbang,.akan merendah juga suatu ketika. Seperti diriku kini"
"Kau bahagia kan?  ucapan perempuan itu benar-benar menusukku. Aku agak terhenyak. Sebab,  kebahagiaan yang diucapkannya tidaklah sama sebangun dengan kenyataan yang kuhadapi. Sejak kami hanya tinggal berdua di rumah setelah kedua anak  perempuan kami menikah dan pindah rumah, kehidupan kami terasa kian hambar saja. Hari-hari kami bagaikan butir air di daun keladi seperti sering jadi nyanyian orang-orang masa dulu.

Aku tertunduk. Bayangan-bayangan yang menakutkan itu menyentakkanku. Aku terasa agak terhuiyung. Tapi perempuan itu cepat-cepat menangkapku. Aku jadi agak tenang. Kehangatan elus jemarinya di punggungku kian memperderas aliran darah di nadiku.

"Maaf, aku telah merusak perasaanmu" ucapnya merasa bersalah.
Aku cepat-cepat memagutnya. Menumpahkan kehangatan perasaan dan sisa mimpi masa lalu yang tak pernah tertebus.

"Semestinya ini terjadi 30 tahun lalu. Saat lembayung pagi menyergap kita di beranda rumahmu" kataku bagaikan seorang penyair yang memanggulkan jutaan kata-kata molek di pikirannya.

Perempuan itu meremas-remas jemariku. Hangat dan bersahaja. Jantungku berdegup kencang. Sudah lama aku tak merasakan ritma seperti ini. Perjalanan hidupku terasa begitu datar bertahun-tahun. Baru kusadari betapa aku telah lama membenamkan mimpi-mimpi di ceruk jiwa yang terdalam.

Betapa jauh aku bisa mengapungkan mimpi-mimpi itu kembali. Perlu 30 tahun bagiku untuk merajutnya. Tak hanya mimpi tapi selaksa kata-kata yang selama ini terhamburkan begitu saja tanpa kendali. Kata-kata ini harus bermakna kembali.

Tiba-tiba kami sudah berada di dalam sebuah ruang. Tak ada cahaya. Tak ada angin. Tak ada sesiapa. Perempuan itu menyanyikan sayup-sayup
"Bahtera Merdeka yang dulu amat kusukai. Aku selalu merasa hangat di pangkuan emak bila menyanyikan lagu itu secara tak beraturan. Kali ini perempuan itu  bagaikan ikut membangkitkan rasa  lelap diriku pada emak yang sudah lama pergi.

Ia menghitung helai demi helai uban di belantara  rambutku yang terasa kian jarang. Jemarinya yang lembut terasa menmbelai-belai. Walau tak pernah dibisikkannya padaku jumlah uban yang sudah dihitungnya, tapi tatap matanya di kegelapan itu menyiratkan sesungguhnya aku sudah begitu tua. Ya, aku merasakan seperti itu setiap berkaca.

"Aku merasa sudah tua" ucapku mendesis. Lembut dan manja di pangkuan perempuan itu.

"Aku juga" balasnya tanpa mimik yang jelas.
"Tapi selalu ada sisa cinta di kedalaman hatiku..
"Cinta itu tak pernah pupus begitu saja. Ia hanya berubah-ubah bentuk"

Ya, Newton juga selalu mengatakan hal itu dalam pelajaran fisika semasa sekolah dulu, tanggapklu dalam hati. Aku ingat pasti soal Hukum Kekekalan Energi Newton itu. Energi memang tak pernah hilang, hanya berubah-ubah bentuk belaka.

"Kau masih mengagumkan"  ucapku lirih.
Ia mencubit pipiku. Kami tersenyum.

"Aku benar-benar merasa terbang di awang-awang. Sudah lama aku tak merasakan terbang setinggi ini, " katanya mengalir begitu saja. "Bukan karena aku sudah tak jadi pramugari lagi," lanjutnya.

"Apakah semua ini masih bermakna? balasku.
Ia lama terdiam.

Bebaskan kata dari makna! Terbayang  sepintas di pelupuk mataku Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri yang duduk perkasa di kursi kredonya. Andai saja semua orang melepas makna dari tiap ucapannya, tak ada lagi cinta dan janji-janji, bisik hatiku.

"Tak ada yang tak bermakna dalam hidup ini. Kata-kata, burung, angin, kesendirian dan apa saja" sahutnya berfalsafah. Aku begitu memahami kematangan jiwanya kini.

"Kesendirian, katamu"

"Iya..tapi aku tak pernah memusuhinya. Kesendirian pun bisa jadi sahabat sejati.."

Itulah kata-kata terakhir perjumpaan kami. Perempuan itu bagai burung dengan sayap sebelah terbang jauh. Kembali ke tanah perantauannya. Sedang aku hanya sepotong ranting kayu yang harus tegar berdiri di kampung halaman  di bibir pantai. Hari-hariku adalah deru ombak yang pecah di pantai yang keruh.

Perjumpaan kami hanya lewat bunyi, keheningan dan nafiri rindu. Setiap waktu kami saling berkabar lewat batin. Atau, puisi yang mengalir lembut di nadi-nadi perasaan.

Hari ini tak ada puisi dan kata-kata bermakna, begitu tulisku suatu  ketika kehampaan menyesaki perasaan. Hanya kubayangkan tatap matanya yang teduh. Senyum ranum dan kata-katanya yang tak menyisakan buih di atas di celah-celah ombak nasib.
Lembayung pagi, 30 tahun kemudian.

"Andai saja aku semasa sekolah dulu..setiap bisik kata-katamu membuatku terlelap dalam  dekap keindahan" Kau adalah maha-puisi yang selalu menghanyutkan derai makna yang sulit kulupa" ucap perempuan itu suatu ketika lewat pesawat telepon.

"Tapi, kau pun adalah telaga bening yang sudah lama tak mampu kutimba. Telagamu begitu dalam, dasarnya begitu jauh, " balasku begitu saja.
"Kata-katamu selalu menjelmakan aku jadi puisi tak berbingkai.. Terdedah begitu saja.."

"Napasku adalah kata-kata"

Lembayung pagi ini. Seekor burung jalak yang berwarna kehitaman melintas di antara pepohonan tepi pantai itu. Selat Malaka terus saja mengalunkan ombak yang pecah di tepi pantai. Selalu begitu dan begitu. (Lipo*2)

Pekanbaru, Desember 2006


Biodata Singkat Fakhrunnas.

Fakhrunnas MA Jabbar, lahir di Airtiris, Riau-Indonesia, 18 Januari 1959. Merupakan anak ke-enam dari dua belas bersaudara pasangan Buya Mansur Abdul Jabbar dan Hj. Aminsuri Wahidy. Menulis dan mempublikasikan tulisannya berupa puisi, cerpen, esai dan artikel di hampir 100 media yang terbit di Indonesia sejak 1975- sekarang.  Telah menulis dan menerbitkan buku yakni  5 kumpulan puisi  (antara lain Airmata Barzanji, 2005 dan Tanah Airku Melayu, 2007), 3 kumpulan cerpen (Jazirah Layeela, 2004, Sebatang Ceri di Serambi, 2006 dan Ongkak, 2010), 2 biografi (Zaini Kunin, Sebutir Mutiara dari Lubuk Bendahara, 1993 dan Soeman Hs, Bukan Pencuri Anak Perawan, 1998) serta 5 buku cerita anak. Tahun 2016 akan menerbitkan buku kumpulan cerpen Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian dan Kumpulan Cerpen 'Airmata Musim Gugur'.

Buku cerpen Sebatang Ceri di Serambi meraih Buku Pilihan Anugerah Sagang, 2007 sekaligus menjadi nominator Khatulistiwa Literary Award tahun yang sama.  Puisinya terhimpun di dalam Antologi De Poetica (antologi puisi Indonesia-Malaysia-Portugis) dan cerpennya Rumah Besar Tanpa Jendela terhimpun dalam buku Horison Sastra Indonesia- Buku Cerpen dan diangkat menjadi film TV (La Tivi 2003). Cerpennya Sebatang Ceri di Serambi diterjemahkan ke bahasa Prancis (Un cerisier devant une  veranda) dimuat di majalah Le Banian (2013).  Tahun  2008 terpilih sebagai Budayawan/ Seniman Pilihan Anugerah Sagang dan tahun yang sama dianugerahi Seniman Pemangku Negeri (SPN) oleh Dewan Kesenian Riau.

Sering mengikuti kegiatan sastra dan budaya sebagai pemakalah dan baca puisi  di Indonesia dan luar negeri  di antaranya 99"Cultural Exchange Programme- Unesco di Seoul dan Kyong Ju (Korsel), PPN IV Brunei Darussalam, PSN XVI Singapura, Baca Puisi Dunia Numera 2014 dan sebagainya. Bersama para penyair lainnya, Fakhrunnas tampil baca puisi di KPK, Jakarta dalam acara Puisi Menolak Korupsi.

Bulan Oktber 2014, dia tampil sebagai pemakalah dan baca puisi pada acara 6th Meeting of Indonesia Literary di Paris ditaja oleh Ascosiation Franco-Indonesien (AFI). Kemudian April  2015 bersama penyair Ramon Damora selama sepekan menjadi dosen tamu  dan baca puisi di Institut National des Langues et Civilization Orientales (Institut Nasional Bahasa dan Kebudayaan Timur- Inalco), Paris (Prancis) serta berceramah/ baca puisi di Universitas Leiden, Belanda. Bulan Desember 2015 tampil baca puisi bersama tiga penyair Riau lain di acara Indonesia Creative, di Basel, Swiss yang ditaja Verrein Indonesia Schwiz (VIS). Awal 2016 ini, Fakhrunnas baca puisi di acara Temu Penyair Serumpun di Singapura. Terakhir ia menghadiri Mahrajan Persuratan dan Seni Islam di Kota Kinabalu dan Membakut, Sabah (Malaysia).

Berkhidmat  sebagai dosen  pada Universitas Islam Riau sejak  1986 dan dunia kewartawan (30 tahun lebih) serta dunia public relations (15 tahun). Tinggal di Pekanbaru.. Email : fakhrunnas_Jabbar@yahoo.com, blog: www.fakhrunnasjabbar.blogspot.com dan FB: Fakhrunnas MA Jabbar.



Berita Lainnya :
 
  • Buka Rapat Paripurna Milad ke-53, Ketua DPRD Inhil Ajak Masyarakat Sukseskan Pilkada Serentak
  • Pjs Bupati Inhil Pimpin Apel Hari Pertama Masuk Kerja Pasca Lebaran
  • Pimpin Apel Pasca Libur Lebaran, ini Pesan Plt Gubernur Kepada ASN dan Honorer
  • Usai Lebaran, Dua Tersangka Korupsi di Dispora Riau Jalani Pemeriksaan
  • Arus Balik dari Sumbar ke Riau Mulai Ramai
  • Elektabilitas Jokowi Kalahkan Prabowo Hanya di Empat Provinsi Ini
  • KPU Tegaskan 2.468 Lembar Surat Suara Riau Rusak
  • Sekeluarga Asal Riau Korban KM Sinar Bangun
  • Najib Razak Jelaskan Asal Kekayaannya
  •  
     
     
     
       
    Nasional Daerah
    Politik Hukrim
    Ekonomi Otomotif
    Sport Internasional
    Hiburan Bandar Serai
    Lifestyle Tekno
    Travelling    
       
    Copyright © 2014-2015 LiputanOke.Com, All Rights Reserved - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index