Rabu, 19 09 2018
Follow:
 
Siap Menjadi The Next Bali, Labuan Bajo Terus Bersolek

alfi | Travelling
Minggu, 18/03/2018 | 05:52:40 WIB
LIPO-SEJAK Kementerian Pariwisata menetapkan Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 destinasi unggulan pariwisata nasional pada Juni 2017, ibukota Kabupaten Manggarai Barat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur itu terus bersolek.

Ibarat seorang gadis yang sedang tumbuh dan berkembang menuju dewasa, kota kecil di ujung barat Pulau Flores berpenduduk sekitar 220.430 jiwa (SP-2010) itu, terus dipoles dan didandani untuk menarik minat wisatawan mancanegara dan domestik.

Manggarai Barat merupakan daerah otonom baru hasil pemekaran dari Kabupaten Manggarai berdasarkan UU No.8 Tahun 2003 itu, awalnya hanyalah sebuah perkampungan nelayan yang dihuni sebagian besar masyarakat dari Bajo, Sulawesi Tenggara serta para nelayan dari Bima, Nusa Tenggara Barat.

Mereka menempati Labuan Bajo sebabai basis perkampungan nelayan tradisional dengan menguasai wilayah perairan di antara pulau-pulau kecil sekitarnya sampai ke Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai ladang perburuan ikan dan biota laut lainnya.

Setelah Taman Nasional Komodo (TNK) resmi ditetapkan menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia (New7 Wonders of Nature) oleh Yayasan New7 Wonders pada 16 Mei 2012, cara pandang pemerintah terhadap sosok Labuan Bajo berubah total.

Sebagai gerbang utama menuju TNK, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur pantas dijadikan sebagai salah satu dari 10 destinasi unggulan pariwisata nasional, bersama Danau Toba di Sumatera Utara, Pantai Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Pantai Tanjung Lesung di Banten, serta Kepulauan Seribu di DKI Jakarta karena keindahan alamnya yang khas.

Lima destinasi unggulan lainnya yaitu, Candi Borobudur di DI Yogyakarta, Taman Nasional Bromo Tengger - Semeru di Jawa Timur, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Pulau Morotai di Maluku Utara, serta Taman Nasional Wakatobi di Sulawesi Tenggara.

Panorama alam di sekitar Labuan Bajo yang berhiaskan tatanan keindahan gugusan pulau-pulau kecil yang mengelilinginya, tampaknya menjadi salah satu faktor penggoda terpilihnya kota kecil itu menjadi salah satu dari 10 destinasi unggulan pariwisata nasional di Tanah Air.

Arus kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo, menurut Kepala Dinas Pariwisata NTT, Marius Ardu Jelamu, cukup signifikan, yakni dari 82.000 pada 2016, naik menjadi 122.000 wisatawan pada 2017. Artinya, pemolesan Labuan Bajo menjadi bidadari pariwisata itu tidaklah sia-sia.

Pemerintah menyadari bahwa upaya untuk menjaring 20 juta wisatawan pada 2019, bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan, sehingga dibentuklah destinasi baru pariwisata nasional untuk menjaring wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia melalui 10 pintu destinasi unggulan pariwisata nasional itu.

Bagi sebagian besar turis mancanegara, Labuan Bajo sering dilukiskan sebagai kota kecil yang sangat romantis dikala senja menggapai malam saat mereka sedang menikmati petualangan di kafe atau restoran di kaki bukti atau tebing yang menghadap ke arah barat laut sambil menikmati keindahan alam pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Labuan Bajo bisa menjadi liburan yang ideal bagi wisatawan asing. Selain karena panorama alamanya yang indah dan eksostik, juga menjadi titik peluncuran ke Pulau Komodo dan Rinca, tempat berkembangbiaknya satwa purba Komodo (Varanus Komodoensis), serta kehidupan bawah laut yang memesona mata.

Jika hendak bepergian ke Pulau Rinca atau Komodo, setiap wisatawan diwajibkan untuk mengikuti paket wisata dengan membayar Rp225.000 plus pajak Rp50.000/orang. Setiap kelompok wisata juga harus membayar pemandu sebesar Rp80.000.

Labuan Bajo adalah titik yang paling tepat untuk melakukan snorkeling (Menyelam di permukaan) di Taman Nasional Komodo. Snorkeling di dalam taman ini menawarkan banyak kesempatan untuk melihat terumbu karang murni dengan beberapa keragaman ikan dan terumbu karang terbesar di dunia.

Taman Nasional Komodo menawarkan lusinan tempat menyelam yang sangat murni, dengan banyak pelagis yang bermigrasi dan terumbu yang masih terjaga membuatnya menjadi salah satu habitat laut terkaya di dunia.

Memenuhi Unsur 3A Melihat berbagai potensi wisata yang dimikiliki Labuan Bajo serta sembilan destinasi unggulan lainnya, Marius Ardu Jelamu menyatakan optimistis bahwa target kunjungan wisatawan sebanyak 17 juta ke Indonesia dalam tahun 2018 bisa tercapai.

Sebab, akses menuju Labuan Bajo kini bertambah mudah dan lancar setelah Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara Internasional Komodo di Labuan Bajo beberapa waktu lalu, sehingga bisa melayani penerbangan internasional serta penebangan dalam negeri dengan pesawat berbadan lebar.(lipo*3/okz)



Berita Lainnya :
 
  • Terkait Gugatan Lahan SD 006 Tagaraja Kateman, Ini Penjelasan Kadisdik Inhil
  • Bawaslu Riau Evaluasi Pengawasan Pilgubri 2018 Untuk Persiapan Pemilu 2019
  • Sitas Sebut Penyegelan SDN 006 Tagaraja Melanggar Hukum
  • Tingkat Disiplin ASN Rendah, Ini Penegasan Setwan DPRD Kuansing
  • Kalahkan Ronaldo, Messi Cetak 8 Hattrick di Liga Champions
  • Mogok Mengajar Meluas, Pemerintah Harus Respons Guru Honorer
  • Rupiah Kembali Tertekan
  • UNRI Persiapkan Rumah Adat Kenegerian Sentajo Sebagai Destinasi Wisata Budaya
  • Pemuda BNN Diharap Jadi Contoh Generasi Muda Jauhi Narkoba
  •  
     
     
     
       
    Nasional Daerah
    Politik Hukrim
    Ekonomi Otomotif
    Sport Internasional
    Hiburan Bandar Serai
    Lifestyle Tekno
    Travelling    
       
    Copyright © 2014-2015 LiputanOke.Com, All Rights Reserved - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index