Kasus Langka, RSUD Arifin Achmad Riau Berhasil Tangani Remaja Memiliki Dua Rahim

Kasus Langka, RSUD Arifin Achmad Riau Berhasil Tangani Remaja Memiliki Dua Rahim
Petugas Medis Saat Menangani Pasien/F: ist

PEKANBARU, LIPO - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad Provinsi Riau berhasil menangani kasus langka sindrom Herlyn-Werner-Wunderlich (HWW). 

Kasus kelainan anatomi ini dialami seorang remaja perempuan (14), yang memiliki dua rahim (uterus), dua serviks, satu vagina, dengan hanya satu ginjal. 

Kondisi tersebut menyebabkan salah satu rahim mengalami sumbatan. Sehingga darah menstruasi tidak dapat keluar dan justru menumpuk hingga ke saluran tuba.

Akibatnya, pasien mengalami pembesaran dan peregangan organ yang memicu nyeri hebat di perut, terutama saat menstruasi.

Kasus ini ditangani oleh tim dokter spesialis, yakni dokter Obgyn Konsultan Fertilitas, Endokrin, dan Reproduksi, dr. Imelda E Baktiana, M.Si.Med, Sp.OG(K) FER, bersama dokter Obgyn Konsultan Uroginekologi dan Rekonstruksi, dr. Dafnil Akhir Putra, Sp.OG, Subsp Urogin Re.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan penunjang seperti USG abdomen, USG transrektal, hingga MRI, tim medis memutuskan melakukan operasi gabungan pada Senin (13/4/26).

Dalam tindakan tersebut, dr. Dafnil melakukan prosedur membuka sekat yang menyumbat rahim melalui liang vagina, sekaligus mengeluarkan darah menstruasi yang menumpuk dan merekonstruksi kembali struktur vagina.

Sementara itu, dr Imelda melakukan histeroskopi, yakni prosedur minimal invasif menggunakan alat berkamera untuk melihat kondisi rongga rahim. Ia juga melakukan laparoskopi guna membersihkan darah yang telah menyebar hingga ke rongga perut.

Pasca operasi, kondisi pasien dilaporkan stabil. Jika tidak ada komplikasi, pasien direncanakan dapat pulang sehari setelah tindakan dan menjalani kontrol rutin di poliklinik.

Menurut dr Imelda dan dr. Dafnil, kelainan ini terjadi akibat gangguan pembentukan organ reproduksi sejak masa awal kehamilan. Meski mekanisme kelainan telah diketahui, penyebab pasti gangguan perkembangan embrio tersebut hingga kini belum sepenuhnya dipahami.

“Kasus ini tergolong sangat langka, dengan kemungkinan terjadi kurang dari satu persen pada pasien dengan gangguan pembentukan organ reproduksi,” jelas mereka.

Para dokter juga mengimbau kepada para ibu yang sedang merencanakan kehamilan maupun yang tengah hamil untuk menjaga asupan gizi yang cukup serta rutin memeriksakan kondisi kehamilan ke fasilitas kesehatan.

Selain itu, orang tua yang memiliki anak perempuan usia pubertas, sekitar 10 hingga 14 tahun, diminta lebih waspada. Jika anak mengalami nyeri haid berlebihan atau tidak mengalami menstruasi sama sekali, disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau menegaskan kesiapan mereka dalam menangani berbagai kasus kesehatan reproduksi, didukung tenaga medis profesional serta peralatan medis yang memadai.*****

 

Ikuti LIPO Online di GoogleNews

#Tenaga Kesehatan

Index

Berita Lainnya

Index