Senin, 22 Juli 2019
Follow:
 
Kembali Gelar Aksi Protes, Rakyat Aljazair Tuntut Revolusi

alfi | Internasional
Sabtu, 06/04/2019 | 17:32:30 WIB
Aljir, LIPO - Tersingkirnya Bouteflika dari kursi kepresidenan pasca-20 tahun menjabat, tidak serta merta memuaskan rakyat Aljazair. Ribuan warga kembali protes pada Jumat, 5 April 2019 menuntut revolusi.

Pada dasarnya, mereka menginginkan kroni Bouteflika pergi dari kendali pemerintahan, serta militer yang netral dari politik.

Kroni yang dimaksud adalah sekutu Bouteflika seperti anggota parlemen, kerabat, dan eksekutif bisnis yang disebut sebagai "le pouvoir".

"Orang-orang ingin mereka semua keluar," teriak para demonstran, sebagaimana dikutip dari The Straits Times pada Sabtu (6/4/2019).

Aksi protes itu diikuti oleh warga Aljazair dari berbagai lapisan masyarakat, tua dan muda, kaya dan miskin; yang bergerak di sepanjang jalan-jalan utama dengan polisi huru-hara bersiaga penuh.

Tampak poster diri para kroni Bouteflika dipajang, dengan kalimat seperti "Anda akan diadili."

Sebagaimana diketahui, konstitusi menyatakan Abdelkader Bensalah, ketua majelis tinggi untuk menjadi pemimpin sementara pasca-turunnya Bouteflika. Padahal, Bensalah termasuk dalam sekutu utama sang mantan presiden Aljazair.

Tidak hanya Bensalah, dalam pemerintahan juga terdapat Said Bouteflika, saudara presiden serta Ali Hadad yang merupakan pebisnis dan sekutu dekat.

Dalam demonstrasi Jumat, tampak demonstran membawa patung serta poster diri Said dan Ali. Patung-patung itu diberikan jerat di leher mereka.

Dalam protes hari Jumat, massa aksi juga mengungkapkan konsen terkait keterlibatan militer dalam politik.

Smail Ahcene (35) salah satu demonstran mengatakan bahwa tentara harus tetap netral. "Perannya, sekarang, harus menjamin berlangsungnya revolusi ini," kata Ahcene.

Sebagaimana diketahui, militer memang telah mempercepat tersingkirnya Bouteflika. Namun, warga Aljazair tidak lupa bahwa dua pekan sebelumnya tentara berperan penting dalam menjaga keberlangsungan rezim. Begitu pula pada 1988, saat tentara dengan keras menindak para pengunjuk rasa, kemudian membatalkan pemilu 1991 yang dimenangkan oleh partai Islamis.

Selain itu, warga Aljazair juga belajar dari kasus Mesir di mana tentara berperan signifikan dalam menumbangkan Presiden Hosni Mubarak, namun kemudian menjegal presiden dari partai Islam yang terpilih secara demokratis. Saat ini, presiden Mesir adalah mantan jenderal bernama Abdel-Fattah el-Sissi.

Berbicara terkait dua tuntutan utama tersebut, Rachid Chaibi, seorang aktivis dan anggota oposisi Front Pasukan Sosialis (FFS) mengatakan tujuan mendasar pemrotes adalah "perubahan radikal dari sistem yang ada."

"Mereka (warga Aljazair) ingin membangun kembali sistem politik dan sosial negara mereka dari nol. Itu adalah sesuatu yang disepakati semua orang," kata Chaibi.(lipo*3/liputan6.com)



Berita Lainnya :
 
  • Kejari Inhu Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Makan & Minum MTQ Tahun 2017
  • DKP Inhil Gelar FGD Peningkatan Ekonomi Produktif Pelaku Usaha Perikanan
  • Ini Cara Meredakan Sakit Lutut Saat Tidur
  • MK Hentikan 14 Perkara Sengketa Pileg 2019, Satu dari Riau
  • Meriahkan Hari Bhakti Adhyaksa ke-59, Bupati Inhil Ikuti Jalan Santai
  • Bupati Inhil Serahkan Bantuan Korban Kebakaran di Kayu Jati
  • MUI Riau Setuju Tes Narkoba Jadi Syarat Menikah
  • Lepas 303 JCH Kuansing Berangkat ke Tanah Suci, Ini Pesan Wabup Halim
  • Diikuti 211 Peserta MA, MTS dan MI, Kemenag Buka KSM Tingkat Kabupaten Bengkalis
  •  
     
     
     
       
    Nasional Daerah
    Politik Hukrim
    Ekonomi Otomotif
    Sport Internasional
    Hiburan Bandar Serai
    Lifestyle Tekno
    Travelling    
       
    Copyright © 2014-2015 LiputanOke.Com, All Rights Reserved - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index