Selasa, 12 November 2019
Follow:
 
Kekayaan Menurun, Miliarder Hong Kong Ajak Warga Akhiri Unjuk Rasa

alfi | Internasional
Selasa, 20/08/2019 | 08:06:56 WIB
LIPO - Meski perang dagang AS-China memicu beberapa kerugian ini, unjuk rasa berminggu-minggu telah mendatangkan malapetaka bagi investor dan menyebabkan kerusakan reputasi besar terhadap wilayah semi-otonom ini sebagai kekuatan ekonomi.

Saat aksi unjuk rasa memasuki minggu ke-11 tanpa tanda-tanda melambat, analis memperkirakan Hong Kong akan mengalami resesi. Sekarang para miliarder di sana menyerukan agar protes berakhir.

Menurut Indeks Miliarder Bloomberg, kekayaan bersih dari 10 taipan terkaya, yang mendapatkan kekayaan mereka dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Hong Kong, telah merosot miliaran sejak protes dimulai pada Juni.

Orang terkaya Hong Kong, raja bisnis berusia 91 tahun Li Ka-shing, menjadi miliarder terbaru yang bergabung dengan kelompok pemrotes aksi unjuk rasa.

Li, yang dijuluki 'Superman' di Hong Kong, mengeluarkan iklan satu halaman penuh di sebagian besar surat kabar lokal, mendesak penghentian kerusuhan "atas nama cinta".

Iklan itu menampilkan kata dalam bahasa China untuk "kekerasan" dengan hiasan palang merah, diapit oleh slogan-slogan tentang mencintai China dan mencintai Hong Kong.

Pengusaha, yang memiliki kekayaan sekitar $ 39 miliar (atau setara Rp 390 triliun), ini mengakhiri iklan tersebut dengan ucapan "dari seorang warga Hong Kong, Li Ka-shing".

Ketika gerakan unjuk rasa berlangsung berlarut-larut, ada kekhawatiran bahwa sektor properti, yang merupakan kunci utama ekonomi lokal, bisa berada dalam bahaya.

Dikendalikan oleh miliarder mega-kaya, Hong Kong adalah rumah bagi real estat paling mahal di dunia, membuatnya jauh dari jangkauan banyak warganya.

Rata-rata, sebuah apartemen nano - seukuran tempat parkir - berharga sekitar 1.475 dolar AS (atau setara Rp 14,75 juta) per bulan untuk disewa. Sebagian besar pengunjuk rasa yang turun ke jalan adalah mahasiswa dan profesional muda.

Keluarga Kwoks, keluarga ketiga terkaya di Asia, meminta agar unuk rasa dihentikan. Photo: Keluarga Kwoks, keluarga ketiga terkaya di Asia, meminta agar unuk rasa dihentikan. (Reuters: Bobby Yip)


Mereka memiliki sedikit harapan untuk bisa memiliki rumah sendiri, sehingga mengusik orang kaya dan berkuasa telah menjadi tujuan dari gerakan ini.

"Di Hong Kong, taipan properti mengendalikan pasokan tanah," kata analis yang berpusat di Shanghai, Andy Xie.

"Beijing mengandalkan para taipan di Hong Kong untuk memerintah tempat itu, sehingga Pemerintah tak benar-benar bertanggung jawab. Semua taipan memiliki hubungan langsung ke Beijing," kata Xie.

Apakah para miliarder Hong Kong mengiyakan penawaran Beijing, hal itu masih harus dilihat lebih lanjut.

"Mereka pikir para taipan ini akan menjaga perdamaian di Hong Kong, yang jelas bukan tujuan mereka. Tujuan mereka adalah menghasilkan uang sebanyak mungkin, secepat mungkin", kata Xie.

Ketika keuntungan mereka mulai turun, makin banyak tokoh properti Hong Kong mengkritik gerakan protes tersebut.

Swire Pacific, salah satu kerajaan bisnis keluarga terkaya Hong Kong, telah mengeluarkan pernyataan tegas yang mengutuk "kegiatan ilegal dan perilaku kekerasan" di sana, seraya melemparkan dukungannya terhadap pemerintah kota itu.

Bisnis keluarga, yang telah berusia lebih dari 200 tahun, ini adalah pemegang saham terbesar di Cathay Pacific, memiliki hotel-hotel mewah, menara perkantoran, dan pusat perbelanjaan kelas atas di seluruh kota.

Sun Hung Kai Properties, yang dikendalikan oleh keluarga terkaya ketiga di Asia, Kwoks, juga menyerukan agar kekerasan dihentikan dan agar tatanan sosial dipulihkan.

Taipan properti, Peter Woo, mantan CEO dari pengembang bernama Wheelock and Co, mengatakan para pengunjuk rasa harus mundur karena mereka sudah berhasil menggagalkan rancangan undang-undang ekstradisi.

"Ekonomi akan mengalami penurunan yang mendalam sebelum akhir tahun ini. Pasar properti akan jatuh besar. Sangat jelas ke mana arah ekonomi ini," kata Xie.

Pemesanan penerbangan ke wilayah Asia dari Hong Kong turun 20 persen dalam beberapa bulan terakhir. Photo: Pemesanan penerbangan ke wilayah Asia dari Hong Kong turun 20 persen dalam beberapa bulan terakhir. (Reuters: Bobby Yip)

Sangat sedikit orang yang saat ini membeli properti di Hong Kong, menurut Mr Xie.

"Jika Anda melihat data harga, itu tak terlihat seperti situasi yang mengerikan. Tetapi pinjaman telah runtuh, jadi kapan penjual akan menyerah dan mulai memotong harga? Sulit dikatakan," katanya.

Buggle Lau menganalisis data untuk salah satu perusahaan real estat terbesar di Hong Kong, Midland Realty Services, dan mengatakan harga telah turun sekitar 2 persen sejak kerusuhan dimulai dengan pasar mewah yang paling terpukul.

"Pengembang telah memperlambat peluncuran terbaru mereka. Baik pembeli maupun penjual mengadopsi pendekatan melihat-lihat situasi," katanya.

Lau mengatakan transaksi perumahan turun lebih dari 50 persen bulan ini, dibandingkan dengan rata-rata bulanan tujuh bulan pertama tahun ini.

"Tetapi kami tak berbicara tentang keruntuhan besar di pasar properti Hong Kong seperti pada tahun 1997," katanya.

Turis juga menurun

Sektor pariwisata - biasanya cadangan Hong Kong ketika pasar berkinerja buruk - juga terpukul, dengan para wisatawan memilih untuk menjauh.

Unjuk rasa di Hong Kong belum menunjukkan tanda berakhir. Jutaan warga masih melakukan demo di akhir pekan kemarin. Photo: Unjuk rasa di Hong Kong belum menunjukkan tanda berakhir. Jutaan warga masih melakukan demo di akhir pekan kemarin. (AP via Apple Daily)

Menurut perusahaan analisis, ForwardKeys, dalam delapan minggu hingga 9 Agustus, pemesanan penerbangan ke Hong Kong dari pasar Asia turun lebih dari 20 persen pada tahun sebelumnya.

Pemesanan jarak jauh dari pertengahan Juni hingga pertengahan Agustus turun hampir 5 persen pada periode yang sama tahun lalu.

    "Beraksi di bandara tersibuk keenam di dunia pasti memiliki dampak dan gambar-gambar itu menjadi viral," kata pendiri grup hotel Ovolo, Girish Jhunjhnuwala.

Ovolo menjalankan jaringan hotel butik di Hong Kong dan telah memperluas bisnisnya ke beberapa negara bagian di Australia.

"Dampaknya sekarang telah mencapai puncaknya. Ketika pertama kali dimulai, dampaknya tidak terlalu banyak, tapi saya pikir peristiwa baru-baru ini pasti berdampak terhadap pariwisata Hong Kong," katanya.

Jaringan hotel ini menyadari adanya peningkatan pembatalan, terutama dalam pemesanan grup.

"Biasanya pada periode seperti ini, hunian kami di tingkat 80 hingga 90 persen dan di hotel ini kami mungkin mengalami penurunan sekitar 60 hingga 65 persen," kata Jhunjhnuwala.(lipo*3/rol)



Berita Lainnya :
 
  • Pengurus Masjid Jami' Al-Ghulam Bersama Panitia Matangkan Persiapan Maulid Nabi
  • Yopi Arianto Ingatkan Kader Golkar Terkait Pembahasan RAPBD 2020
  • Maaf Sudah Close, 13 Nama Balon Pilkada Tahun 2020 Mendaftar di Partai Gerindra Inhu
  • Marlius Tercatat sebagai Kader Tunggal Partai Gerindra Maju Pilkada Tahun 2020
  • Adi Sukemi Kembalikan Berkas Pendaftaran ke Partai Demokrat
  • 12-13 November, Peselancar Mancanegara akan Ikuti Bono Surfing
  • Pemprov Riau dan Raja Perlis Teken Kerjasama Ekonomi Islam
  • Presiden Jokowi Tampung Usulan Pilkada tak Langsung
  •  
     
     
     
       
    Nasional Daerah
    Politik Hukrim
    Ekonomi Otomotif
    Sport Internasional
    Hiburan Bandar Serai
    Lifestyle Tekno
    Travelling    
       
    Copyright © 2014-2015 LiputanOke.Com, All Rights Reserved - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index