Senin, 30 Maret 2020
Follow:
 
Malaysia 'Lockdown' Meski Belum Ada Kematian Akibat Corona

elpi | Internasional
Selasa, 17/03/2020 | 08:35:13 WIB
Ilustrasi/int
TERKAIT:
 
 
KUALA LUMPUR - Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin mengumumkan, Malaysia akan melakukan pembatasan ruang gerak warganya secara nasional mulai Rabu (18/3) hingga Selasa (31/3) menyusul wabah virus corona atau Covid-19. Media-media di Malaysia menyebut langkah ini sebagai tindakan lockdown yang kemudian diklarifikasi pihak pemerintah.

"Prioritas pemerintah sekarang adalah untuk menghindari penyebaran infeksi baru, yang akan mempengaruhi lebih banyak orang," kata Muhyiddin dalam siaran langsung pengumuman khusus di Astro Awani, RTM, TV3 dan BernamaTV dilansir Malay Mail, Senin (16/3).
 
"Karena itu, tindakan drastis perlu diambil. Pemerintah telah memutuskan untuk menerapkan 'pembatasan ketertiban gerakan' mulai dari 18 Maret hingga 31 Maret," ujarnya menambahkan.

Muhyiddin mengatakan, semua tempat usaha harus ditutup. Terkecuali perusahaan seperti supermarket dan toko kelontong yang menjual kebutuhan sehari-hari.

Dia mengatakan, seluruh kegiatan di tempat pemerintah dan swasta akan ditutup selama kebijakan ini, kecuali untuk layanan penting seperti utilitas, telekomunikasi, transportasi, perbankan, kesehatan, apotek, pelabuhan, bandara, pembersihan dan persediaan makanan. Hingga kini, meski beluma da laporan kematian akibat Covid-19, Malaysia mencatat 553 kasus infeksi Covid-19. Sebanyak 138 kasus baru dilaporkan hari ini.

Sebagian besar pasien adalah peserta acara keagamaan di sebuah masjid yang dihadiri lebih dari 10 ribu orang dari sejumlah negara. Otoritas kesehatan Malaysia mengungkapkan, antara 27 Februari dan 1 Maret lalu, sekitar 16 ribu orang menghadiri pertemuan keagamaan di sebuah masjid di dekat Kuala Lumpur. Sekitar 14.500 peserta adalah warga Malaysia dan sisanya datang dari berbagai negara.

Menteri Kesehatan Malaysia Datuk Seri Dzulkefly Ahmad mengatakan, langkah pembatasan gerak secara nasional bukanlah lockdown. Menurutnya, langkah pemerintah hanyalah bentuk social distancing atau jarak sosial yang dapat meratakan kurva epidemi.

"Ini tidak seperti lockdown sama sekali. Lockdown adalah ketika Anda tidak dapat meninggalkan rumah, ada jam malam total, Anda tidak bisa keluar untuk membeli makanan," kata Dzulkefly dikutip Malay Mail.

"Langkah Perdana Menteri adalah ekspresi terbaik dari social distancing. Ini adalah gangguan dalam kegiatan keseharain, ya memang, tapi ini akhirnya adalah untuk meratakan kurva epidemi," kata dia, menambahkan.

Menurut laporan dan studi berita, social distancing adalah bagian dari upaya untuk melakukan apa yang oleh ahli epidemiologi disebut meratakan kurva pandemi. Yakni, menjauhi kerumunan agar menangkal persebaran virus.

Malaysia bukan negara pertama yang diperintahkan oleh pemerintahnya untuk menjalani pembatasan ini. Bagian lain dunia, seperti berbagai negara bagian di AS juga mempraktikkan social distancing yang berkontribusi untuk meratakan kurva epidemi. Indonesia juga melakukan hal serupa.


Menteri Keagamaan Datuk Zulkifli Mohamad Al-Bakri menyatakan, Pemerintah Malaysia menangguhkan semua kegiatan di masjid dan mushala, termasuk shalat berjamaah, Senin (16/3). Penangguhan akan dilakukan selama 10 hari.

"Semua kegiatan di masjid dan surau termasuk shalat Jumat dan shalat berjamaah ditunda mulai dari 17-26 Maret 2020," ujar Datuk Zulkifli dikutip dari Malay Mail Online.

Mufti Wilayah Persekutuan ini mengatakan, keputusan ini berlaku hanya untuk wilayah persekutuan saja, yang terdiri dari Kuala Lumpur, Putrajaya, dan Labuan. Namun, penerapan suspensi 10 hari akan tergantung pada masing-masing otoritas negara bagian untuk memutuskannya.

Keputusan tersebut pun dilakukan setelah menerima persetujuan Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'uddinuddin Al-Mustafa Billah Shah. Pertemuan yang dilakukan Ahad (15/3) melibatkan komite khusus dewan tingkat nasional tentang urusan Islam untuk memutuskan penangguhan kegiatan masjid dan musolah.

"Komite Masjid dan Musolah direkomendasikan untuk melakukan operasi pembersihan dan desinfeksi sebagai langkah keamanan untuk menghindari infeksi. Periode sepuluh hari tunduk pada saran dan pandangan dari Kementerian Kesehatan Malaysia," kata  Datuk Zulkifli.

Datuk Zulkifli mengatakan, pertemuan itu juga telah memutuskan pengaturan pemakaman jika terjadi kematian akibat Covid-19. Pengurusan jenazah harus dilakukan sesuai dengan keputusan Februari 2015 oleh komite yang sama dalam pertemuan ke-107 tentang bagaimana  Muslim yang meninggal karena dicurigai atau dikonfirmasi terinfeksi virus Ebola.

Komite telah memutuskan bahwa baik keputusan mengenai penangguhan 10 hari kegiatan masjid dan mushala, serta pengurusan jenazah pasien Muslim Covid-19 akan diserahkan kepada pertimbangan masing-masing otoritas negara bagian. Langkah ini dilakukan meski Malaysia saat ini belum mencatat kematian karena virus corona.***



Berita Lainnya :
 
  • 100 Banser Semprot Disinfektan Bersama Polisi Besok Pagi
  • Dalam Dua Hari, Rumah Sakit di Pekanbaru Tampung Dua Pasien Positif Corona
  • KNPI Bengkalis Minta Diskes Gunakan Rapid Test Tepat Sasaran
  • dr Firmansyah SpPD: Indonesia Kategori Tinggi Tingkat Kematiannya, Ini Langkah Pencegahannya
  • Masker Langka, Dekranasda Siak Gandeng Penjahit Produksi Puluhan Ribu Masker BC19
  • Lawan Corona dengan Menjaga Wudhu
  • Ketum LAR Tuding Rekrutmen PD tidak Transparan & Diduga Pungli, Panitia: Itu tidak Benar
  • Terkena Dampak Corona, Pengusaha Jasa Penunjang Migas Minta Dukungan Pemerintah
  • Pekanbaru Terima 320 Alat Tes Cepat COVID-19
  •  
     
     
     
       
    Nasional Daerah
    Politik Hukrim
    Ekonomi Otomotif
    Sport Internasional
    Hiburan Bandar Serai
    Lifestyle Tekno
    Travelling    
       
    Copyright © 2014-2015 LiputanOke.Com, All Rights Reserved - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index