Talukkuantan, LIPO -Balai Bahasa Provinsi Riau (BB Riau) melaksanakan “Bimbingan Teknis Guru Utama Revitalisasi Bahasa Melayu Riau” pada 12—13 Mei 2026 di aula SMP Negeri 6 Kuantan Singingi, Taluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi.
Kegiatan ini diikuti oleh 58 guru jenjang SD dan SMP sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian bahasa dan sastra daerah.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr. Umi Kulsum, dalam laporannya menyampaikan bahwa revitalisasi bahasa daerah merupakan langkah penting dalam menjaga identitas dan kekayaan budaya masyarakat Melayu Riau. Menurutnya, bahasa daerah tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai, adat, dan kearifan lokal kepada generasi muda.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap para guru dapat menjadi garda terdepan dalam pelestarian Bahasa Melayu Riau di lingkungan sekolah. Revitalisasi bahasa daerah harus terus dilakukan agar bahasa ibu tetap hidup dan digunakan oleh generasi penerus,” ujarnya, Selasa, 12 Mei 2026.
Kegiatan bimbingan teknis ini dibuka secara resmi oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Kuantan Singingi, Napisman.
Dalam sambutannya, Napisman menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang dinilai sangat strategis dalam menjaga eksistensi bahasa daerah di tengah perkembangan zaman.
“Kegiatan ini sangat penting dan patut diapresiasi karena menjadi upaya nyata dalam melestarikan Bahasa Melayu Riau sebagai identitas budaya daerah. Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi mendukung penuh program revitalisasi bahasa daerah agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai bahasa ibunya,” ungkap Napisman.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Disdikpora Kuansing Zulmaswan dan Kepala Bagian Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kuantan Singingi, Alpion.
Selama kegiatan, peserta mendapatkan pembekalan dari sejumlah narasumber inspiratif sesuai bidang masing-masing, yakni Merry Wanary (mendongeng), Hasven (komedi tunggal), Depita Engriani (pidato), Mulkismawati (menulis cerpen), Kudri (menulis aksara Melayu), Perizal (membaca puisi), dan Suparmi (tembang tradisi).
Setelah mengikuti bimbingan teknis, para guru diharapkan dapat mengimbaskan hasil pelatihan kepada para siswa melalui kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) di sekolah masing-masing.
Selain itu, pada tahun 2026 juga akan dilaksanakan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat kabupaten dan provinsi sebagai wadah pengembangan bakat serta pelestarian Bahasa Melayu Riau di kalangan pelajar.
Pada acara pembukaan, Kepala BBR berkesempatan menyerahkan buku bahan bacaan anak dwibahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Riau dialek Kuansing kepada 8 penulis. Karya mereka sudah diterbitkan BBR pada tahun 2025.(***)