19 Warga Inhil Jadi Korban Gigitan Monyet Ekor Panjang, BBKSDA Riau Siapkan Kandang Perangkap

Kamis, 06 Agustus 2026 | 17:58:23 WIB
Tim BBKSDA Riau Pasang Perangkap Monyet Liar Menyerang Warga

TEMBILAHAN, LIPO - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memastikan penanganan konflik satwa liar monyet ekor panjang Macaca fascicularis di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terus dilakukan secara terpadu.

Penanganan melibatkan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan. Prioritas utama adalah keselamatan warga, namun tetap mengedepankan prinsip konservasi.

"Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar. Namun demikian, upaya mitigasi juga harus tetap mengedepankan prinsip konservasi," kata Kepala BBKSDA Riau Supartono, Kamis (6/8/2026).

Konflik terjadi di kawasan Parit 12, Parit 13, Parit 14, dan Parit 15, Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota. Berdasarkan data sejak laporan pertama 23 Juli hingga 5 Agustus 2026, tercatat 19 orang menjadi korban. Seluruhnya mengalami luka akibat gigitan dan serangan monyet. Serangan ini juga menimbulkan keresahan dan dampak psikologis di masyarakat.

Menyikapi keresahan warga akibat serangan monyet liar ini, Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Riau bersama Kapolres Inhil, Kadis Damkar, Camat Tembilahan, dan Lurah Tembilahan Kota menggelar rapat koordinasi di Kantor Lurah Tembilahan Kota, Rabu (5/8/2026). Rapat bertujuan menyamakan langkah penanganan dan mengevaluasi perkembangan di lapangan.

Berdasarkan hasil identifikasi sementara, serangan diduga dilakukan seekor monyet ekor panjang dewasa berjenis kelamin jantan. Ciri khususnya terdapat bekas luka pada bagian pipi.

"Pola serangan umumnya terjadi ketika korban berada seorang diri atau dalam kondisi lengah. Monyet kemudian menggigit bagian kaki korban sebelum melarikan diri," jelas Supartono.

Hingga kini satwa tersebut belum merespons umpan berupa pisang yang dipasang petugas.

Sebelum Tim WRU diterjunkan, Pemkab Inhil bersama Forkopimda sudah melakukan penyisiran menggunakan jaring dan tangguk. Personel TNI, Polri, BPBD, Dinas Damkar, kecamatan, relawan, hingga masyarakat juga dilibatkan.

Dari hasil rapat disepakati penanganan mengutamakan keselamatan masyarakat tanpa mengabaikan prinsip konservasi. Seluruh pihak diminta tidak melakukan perburuan. Langkah yang diambil adalah memperkuat pemantauan lapangan dan menyiapkan kandang perangkap untuk evakuasi jika satwa berhasil diidentifikasi dan diamankan.

BBKSDA Riau juga mengimbau warga agar waspada dan hindari beraktivitas seorang diri di lokasi jalur pergerakan satwaJangan memberi makan monyet liar.

Segera lapor ke petugas jika melihat monyet dengan ciri bekas luka di pipi. Tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang memperburuk situasi.

"Penanganan konflik satwa liar membutuhkan kerja sama semua pihak agar keselamatan masyarakat tetap terjaga, sekaligus memastikan satwa ditangani sesuai prinsip konservasi," tegas Supartono.*****

 

Terkini