PEKANBARU, LIPO - Badan Pusat Statistik Provinsi Riau mencatat pertumbuhan penduduk di Riau dalam lima tahun terakhir mengalami perlambatan. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, rata-rata laju pertumbuhan penduduk tahunan di Riau tercatat sebesar 1,34 persen.
Kepala BPS Riau, Asep Riyandi, mengatakan selain pertumbuhan yang melambat, rasio ketergantungan penduduk juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2025, angka rasio ketergantungan tercatat mencapai 45,58 persen.
“Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 45 penduduk usia nonproduktif,” jelasnya, Sabtu 11 Mei 2026.
BPS juga mencatat angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) di Riau berada di angka 2,21. Angka tersebut dinilai sudah mendekati replacement level atau tingkat kelahiran pengganti penduduk.
Di sisi lain, kondisi kesehatan masyarakat menunjukkan perkembangan positif. Angka kematian bayi atau Infant Mortality Rate (IMR) terus mengalami penurunan dan pada 2025 tercatat berada di angka 13,28.
Dalam laporan SUPAS 2025, BPS juga menyoroti pola migrasi penduduk di berbagai daerah di Riau. Hampir seluruh kabupaten di Riau tercatat menjadi daerah tujuan migrasi, yang terlihat dari angka migrasi risen neto positif.
Kabupaten Kampar menjadi daerah dengan migrasi risen neto positif terbesar, yakni mencapai 7,33. Sementara itu, Pekanbaru justru mencatat migrasi risen neto negatif terbesar di angka minus 8,41.
Selain itu, BPS menilai Provinsi Riau saat ini mulai mendekati fase ageing population atau penuaan penduduk. Hal itu terlihat dari persentase penduduk lanjut usia yang telah mencapai 8,65 persen dari total populasi.
Menurut Asep, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam menyiapkan kebijakan pembangunan, terutama di sektor kesehatan, ketenagakerjaan, dan perlindungan sosial bagi masyarakat lanjut usia.****