PEKANBARU, LIPO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meluas di sejumlah wilayah di Riau. Salah satu titik kebakaran terjadi di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, yang bahkan sempat mendekati area sebuah pondok pesantren di sekitar lokasi.
Hingga hari kelima proses pemadaman, luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai lebih dari 15 hektare. Namun dari total area tersebut, baru sekitar 3 hektare yang berhasil dipadamkan oleh tim gabungan.
Kepala Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru, Firza Causar, mengatakan kondisi di lapangan masih cukup berat. Asap tebal dan api yang masih besar membuat proses pemadaman berlangsung lambat.
“Asap di lokasi sangat tebal dan api masih cukup besar. Dari sekitar 15 hektare yang terbakar, baru sekitar 3 hektare yang berhasil dipadamkan,” ujar Firza, Sabtu (14/3/2026).
Kebakaran terjadi di lahan gambut yang berbatasan langsung dengan wilayah Kota Pekanbaru. Kondisi gambut yang kering, ditambah cuaca panas serta tiupan angin kencang, membuat api cepat menjalar.
Api bahkan sempat mendekati salah satu bangunan pondok pesantren di sekitar lokasi kebakaran. Beruntung, bangunan utama pesantren tidak terdampak langsung.
“Api hampir mengenai dinding salah satu bangunan pesantren, tetapi bukan gedung utama. Saat ini pesantren juga sedang libur,” jelas Firza.
Di belakang kompleks pesantren terdapat semak belukar di lahan gambut kering yang sangat mudah terbakar. Angin kencang membuat api dengan cepat merambat menuju area bangunan.
Untuk mencegah api masuk ke area pesantren, tim pemadam langsung memfokuskan upaya penyekatan pada titik api yang mengarah ke bangunan.
“Kami fokus menyekat kepala api yang mengarah ke bangunan pesantren. Area tersebut kami siram maksimal lalu dilakukan pendinginan,” katanya.
Proses pemadaman melibatkan petugas gabungan dari Manggala Agni, TNI, dan Polri. Sebanyak 20 personel Manggala Agni dikerahkan untuk membantu memadamkan api di lokasi.
Meski demikian, upaya pemadaman tidak berjalan mudah. Petugas menghadapi berbagai kendala, mulai dari cuaca panas, angin kencang, hingga kondisi gambut yang kering dan dalam sehingga api terus membesar.
“Bahan bakar di lokasi berupa semak belukar di lahan gambut kering sehingga api cepat membesar,” ujar Firza.
Selain itu, petugas juga kesulitan mendapatkan sumber air. Sebagian kanal di sekitar lokasi telah mengering akibat musim kemarau.
Untuk mendapatkan air, petugas harus berpindah-pindah mencari kanal yang masih memiliki debit air.
“Kami mencari kanal yang masih berisi air. Jarak sumber air ke titik api sekitar 500 meter,” jelasnya.
Asap tebal dari kebakaran gambut tersebut kini mulai dirasakan warga di permukiman sekitar karena jarak kebakaran yang cukup dekat dengan kawasan hunian.
“Kebakaran ini cukup dekat dengan permukiman sehingga asapnya dirasakan warga. Kami masih terus berupaya memadamkan api,” tambah Firza.
Selain di Kampar, kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain di Riau, di antaranya Pelalawan, Bengkalis, Dumai, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, dan Siak.(***)