PEKANBARU, LIPO — Kapolda Riau, Herry Heryawan, memaparkan perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau serta langkah terpadu penanganannya dalam pertemuan dengan jajaran kepolisian Johor dan Melaka, Malaysia.
Pemaparan itu disampaikan dalam rangkaian forum bilateral keamanan Indonesia-Malaysia yang digelar di Johor Bahru. Dalam forum tersebut, Kapolda menegaskan bahwa penanganan karhutla di Riau dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan berbagai unsur.
Sebanyak 3.030 personel diterjunkan ke lapangan dengan dukungan peralatan lengkap, mulai dari sarana darat, udara, alat berat, drone hingga perlengkapan keselamatan.
“Kami ingin menyampaikan kepada sahabat di Malaysia bahwa Riau bekerja serius dan kolaboratif dalam menangani karhutla. Ribuan personel dikerahkan dengan dukungan teknologi dan sarana lengkap,” ujar Herry, Rabu (9/9/2026).
Ia menekankan, upaya penanganan tidak hanya dilakukan saat kebakaran terjadi, melainkan dimulai jauh sebelum memasuki musim rawan.
Bersama pemerintah daerah, TNI, dan pemangku kepentingan lainnya, Polda Riau memperkuat langkah mitigasi dan pencegahan, terutama menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Niño.
Langkah preventif dilakukan melalui sosialisasi larangan membakar lahan, patroli rutin, pemasangan plang peringatan, pelibatan masyarakat, serta pemanfaatan teknologi untuk mendeteksi titik api sejak dini.
Di sisi infrastruktur, kesiapan juga terus ditingkatkan dengan pembangunan 19 sumur bor, 1.390 embung, 1.988 sekat kanal, serta 313 menara pemantau yang tersebar di wilayah rawan.
“Kami bekerja dari hulu ke hilir. Mulai dari pencegahan, edukasi, deteksi dini, hingga pemadaman, pendinginan, dan penegakan hukum,” tegasnya.
Data yang dipaparkan menunjukkan, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, luas lahan terbakar di Riau mencapai 17.525,80 hektare. Sementara itu, penegakan hukum terus berjalan dengan 45 perkara ditangani dan 49 tersangka telah ditetapkan, mencakup lahan seluas 2.958,04 hektare.
“Tidak boleh ada pihak yang mengambil keuntungan dengan merusak lingkungan. Penegakan hukum kami lakukan tegas,” kata Herry.
Selain penanganan teknis, Polda Riau juga fokus pada perlindungan masyarakat terdampak asap, melalui pembagian masker, layanan kesehatan, trauma healing, hingga penyediaan posko oksigen.
Dalam forum tersebut, Kapolda juga memaparkan kondisi arah angin dan sebaran asap di wilayah Indonesia. Hal ini dinilai penting mengingat kedekatan geografis Riau dengan Semenanjung Malaysia, sehingga diperlukan keterbukaan informasi dan koordinasi lintas negara.
“Riau dan Malaysia berada dalam satu kawasan yang berdekatan. Persoalan lingkungan membutuhkan komunikasi dan kerja sama yang kuat,” ujarnya.
Pertemuan ini merupakan bagian dari Mesyuarat Dua Hala Keselamatan Sempadan 2026 yang berlangsung pada 7–9 September 2026, bertujuan memperkuat sinergi aparat keamanan kedua negara dalam menjaga stabilitas kawasan perbatasan.
Dalam kunjungan tersebut, Kapolda Riau didampingi sejumlah pejabat utama Polda Riau, sementara dari pihak Malaysia hadir jajaran pimpinan kepolisian Johor dan Melaka. Turut hadir pula Konsul Jenderal RI di Johor Bahru, Sigit Suryantoro Widyanto.(***)