PEKANBARU, LIPO - Kabar penutupan Gramedia di Mal Pekanbaru dan menurunnya jumlah pengunjung Transmart Pekanbaru belakangan ini memicu beragam spekulasi di tengah masyarakat.
Namun, Pengamat Ekonomi Universitas Riau (Unri), Dahlan Tampubolon, menilai bahwa fenomena tersebut lebih tepat dibaca sebagai bentuk penyesuaian struktur ritel, bukan cerminan langsung dari krisis ekonomi yang menyeluruh.
Menurut Dahlan, kondisi ekonomi Riau dan Pekanbaru pada 2025 hingga awal 2026 justru menunjukkan tren pemulihan yang relatif solid.
Ia merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat ekonomi Riau tahun 2025 tumbuh 4,79 persen, naik signifikan dari 3,52 persen pada 2024. Nilai PDRB Riau saat itu mencapai sekitar Rp1.201 triliun dengan kontribusi sekitar 5,08 persen terhadap perekonomian nasional.
"Riau menjadi salah satu motor ekonomi terbesar di luar Jawa. Ini bukan gambaran krisis," ujar Dahlan, Jumat 17 April 2026.
Ia juga menyoroti kinerja fiskal Pekanbaru yang menunjukkan penguatan. Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2025 sebesar kurang lebih Rp1,3 triliun, dengan target pajak Rp1,185 triliun, berhasil direalisasikan sekitar Rp1,170 triliun atau 99 persen dari target. Angka ini naik sekitar Rp300 - 335 miliar dibanding 2024.
"Ini rekor baru. Artinya, pemerintah kota punya ruang fiskal untuk membiayai belanja pegawai dan pembangunan infrastruktur dasar yang memperkuat daya dukung ekonomi lokal," jelasnya.
Bukan Runtuhnya Daya Beli
Dahlan menegaskan, penutupan Gramedia Mal Pekanbaru per 12 April 2026 dan penurunan pengunjung Transmart lebih merefleksikan perubahan pola konsumsi dan strategi bisnis. Penutupan Gramedia, kata dia, terkait langsung dengan rencana renovasi besar-besaran mal tersebut.
"Secara nasional, Gramedia memang merapikan portofolio gerai dengan menutup titik yang biaya sewanya tinggi atau traffic-nya menurun, sambil mengalihkan fokus ke lokasi yang lebih efisien dan kanal online," terangnya.
Sementara untuk Transmart, penurunan pengunjung sejalan dengan tren nasional di mana beberapa cabang ditutup pada 2025 akibat persaingan ketat dari minimarket, supermarket lokal, dan e-commerce yang lebih dekat dengan pola belanja harian rumah tangga.
Dampak dan Peluang ke Depan
Dahlan mengakui, konsekuensi langsung dari dinamika ini adalah berkurangnya arus pengunjung di titik-titik tertentu, potensi pengurangan tenaga kerja di gerai terdampak, serta penurunan efek pengganda ke tenant sekitar. Namun, dampak makro terhadap PDRB kota cenderung berupa redistribusi.
"Belanja buku dan kebutuhan rumah tangga akan berpindah ke cabang Gramedia lain seperti di Mall SKA dan Sudirman, maupun ke kanal online. Ruang ritel yang kosong berpotensi diisi format usaha baru yang lebih sesuai preferensi konsumen saat ini, seperti F&B, hiburan keluarga, dan ekonomi kreatif," paparnya.
Dengan pertumbuhan ekonomi Riau yang membaik, kontribusi PDRB yang besar, serta PAD kota yang mencetak rekor, Dahlan menilai Pekanbaru cukup menjanjikan jika pemerintah daerah dan pengelola mal mampu memanfaatkan momentum restrukturisasi ini.
"Renovasi Mal Pekanbaru dan keberlanjutan Gramedia di lokasi lain bisa menjadi bagian dari repositioning kawasan perdagangan kota dari sekadar ruang belanja barang menjadi ruang pengalaman dan interaksi. Jika dikombinasikan dengan kebijakan pro-UMKM dan inovasi digital, ini berpotensi memperkuat struktur ekonomi Pekanbaru dalam jangka menengah," pungkasnya.*****