PEKANBARU, LIPO - Tengku Mohammad Toha akhirnya angkat bicara mengenai tuduhan yang dialamatkan kepadanya terkait pemalsuan ahli waris, penggunaan gelar, hingga penahanan dokumen Kesultanan Siak. Dalam klarifikasi yang disampaikannya, ia menantang Tengku Amir Ahmad Abdul Jalil Muazamsyah untuk membuktikan klaim kezuriatannya.
Soal Anugerah Gelar dari Sultan Siak
Tengku Mohammad Toha menjelaskan bahwa dirinya menerima anugerah gelar dari Sultan Siak IV Alamuddin Syah dan Sultan Muhammad Ali bukan tanpa dasar. Ia mengusulkan kedua tokoh tersebut sebagai pahlawan daerah melalui Lembaga Kesultanan Siak ke TP2GD Kota Pekanbaru pada tahun 2024.
"Saya selaku Timbalan Mangku Bumi, Mangku Diraja, Lembaga Kesultanan Siak mengambil inisiatif mengajukan Sultan Alamuddin untuk dijadikan tokoh pejuang daerah yang selama ini banyak pihak tidak peduli mereka berbunyi ketika barang sudah jadi yang selama ini tidak peduli," ujarnya, Sabtu 25 September 2026.
Setelah melalui kajian TP2GD Provinsi, usulan tersebut dinyatakan layak. Sebagai pengusul dari lembaga, ia kemudian menentukan siapa yang berhak menerima anugerah piagam tersebut.
Dasar Pengambilan Zuriat
Tengku Mohammad Toha memaparkan bahwa berdasarkan catatan dan dokumen sejarah, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah hanya memiliki dua orang anak: Sultan Muhammad Ali Marhum Pekan dan Tengku Mbung Badariah.
"Karena Sultan Muhammad Ali tidak ditemukan zuriatnya, maka saya mengambil zuriatnya pada adiknya, Tengku Mbung Badariah. Saya merupakan zuriat yang kedelapan Mbung Badariah," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa dirinya memberikan surat pernyataan sebagai ahli waris dari Tengku Mbung Badariah, bukan dari Sultan Muhammad Ali.
Tantangan untuk Amir Ahmad
Tengku Mohammad Toha menantang Tengku Amir Ahmad untuk membuktikan klaim kezuriatannya sebagai keturunan Sultan Muhammad Ali.
"Kalau dia mengaku zuriat Sultan Muhammad Ali, konsekuensinya dia harus membuktikan tentang kezuriatan dia karena ini ada sanksi hukum penipuan, kalau saya jelas mengusulkan karena status kezuriatan saya," tegasnya.
Ia menyoroti beberapa kejanggalan dalam diagram silsilah yang diajukan Amir Ahmad. Salah satunya adalah munculnya gelar "Tengku" pada diri Amir Ahmad, sementara nama-nama di atasnya tidak memiliki gelar tersebut.
"Kalau dia tengku, tentu atas-atasnya tengku. Kok tiba-tiba muncul dia tengku?" pertanyaannya.
Selain itu, ia juga mempertanyakan adanya nama "Haji" dalam silsilah tersebut, mengingat Sultan Muhammad Ali meninggal pada tahun 1791, di mana pada abad ke-18 belum ada orang yang pergi haji.
Persoalan Generasi
Tengku Mohammad Toha juga menyoroti perbedaan generasi antara dirinya dengan Amir Ahmad. Menurutnya, berdasarkan kajian genealogi, generasi saat ini yang dibandingkan dengan tahun 1791 seharusnya berada di generasi kedelapan, bukan keenam.
"Dia zuriat keenam, sementara saya sendiri delapan. Berarti dia lebih tua dari datuk saya? Ini banyak kejanggalan," ujarnya.
Soal Kelembagaan Kesultanan Siak
Menanggapi tuduhan terkait kelembagaan, Tengku Mohammad Toha menjelaskan bahwa statusnya dan Almarhum Tengku Mukhtar adalah sama-sama pendiri Lembaga Kesultanan Siak. Perbedaan hanya pada posisi, di mana Tengku Mukhtar diberi gelar Mangku Bumi Mangku Diraja, sedangkan dirinya sebagai Timbalan Mangku Bumi Mangku Diraja.
"Status Tengku Mukhtar dan saya sama sebagai pendiri. Cuma karena dia dituakan, dia diberi gelar Mangku Bumi Mangku Diraja, saya Timbalan," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa penggantian pemangku adat harus melalui mekanisme yang diatur dalam anggaran dasar lembaga, bukan melalui wasiat pribadi.
"Sebagai pemangku, tidak ada wasiat. Ini tidak berlaku wasiat," tegasnya.
Masa Jabatan Tidak Terbatas
Tengku Mohammad Toha juga menyebutkan bahwa dalam anggaran dasar lembaga, masa jabatan pemangku adat dan timbalan pemangku adat Kesultanan Siak tidak terbatas.
"Sepanjang belum dipilih yang baru, saya sebagai timbalan punya hak," ujarnya.
Ia mengaku sudah melakukan beberapa kali pertemuan untuk menyepakati siapa yang akan menggantikan Tengku Mukhtar, namun tidak mencapai kesepakatan hingga hampir dua tahun.
Dokumen Pendukung
Dalam klarifikasinya, Tengku Mohammad Toha menunjukkan berbagai dokumen asli yang mendukung kezuriatannya, termasuk silsilah dari Tengku Mbung Badariah hingga dirinya, serta surat-surat yang menjelaskan identitas dirinya sebagai keturunan Sultan Siak.
"Ini silsilah yang menjelaskan saya. Jadi saya punya data tentang kezuriatan saya. Aslinya semua ada di sini," pungkasnya.
Ia berharap Amir Ahmad dapat memberikan data yang lengkap, sah, dan akurat tentang kezuriatannya sebelum melayangkan tuduhan kepada pihak lain.
"Jika tidak bisa membuktikan 1 X 24 kami juga akan melaporkan ke Polisi Jam," tutupnya.*****