Arif Eka Saputra : Gen-Z Tak Boleh Tumbuh Tanpa Pancasila

Arif Eka Saputra : Gen-Z Tak Boleh Tumbuh Tanpa Pancasila
Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang ditaja oleh Anggota DPD RI asal Riau, Arif Eka Saputra,S.Pi. /ist

SIAK HULU, LIPO — Ratusan siswa SMK TUAH Negeri mengikuti kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang ditaja oleh Anggota DPD RI asal Riau, Arif Eka Saputra,S.Pi. Sabtu (3/10/26). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan sekaligus mengajak para Siswa yang masuk kategori Generasi Z (Gen-Z) tetap menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam menghadapi perkembangan zaman.

Empat Pilar kehidupan Berbangsa dan Bernegara, yang terdiri dari Pancasila, UUD tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, menurut Arif penting disampaikan bagi pelajar karena mereka adalah calon-calon pemimpin bangsa yang akan menjaga eksistensi dan keberlanjutan keutuhan negara.

"Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya, terutama dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Gen Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Karena itu, kalian para Gen Z tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan teknologi, tetapi juga harus memiliki karakter, etika, serta pemahaman kebangsaan yang kuat,” kata Arif.

Ia menekankan bahwa Pancasila tetap relevan bagi Gen-Z, meskipun pola kehidupan masyarakat terus berubah. Nilai-nilai Pancasila, kata dia, tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang hanya dihafalkan dalam kegiatan sekolah, melainkan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Arif mencontohkan seperti nilai Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya, dapat diwujudkan Gen-Z dengan membangun sikap toleransi dan saling menghormati di tengah keberagaman. Sementara nilai kemanusiaan dapat diterapkan dengan tidak melakukan perundungan atau bullying, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Begitu pula dengan semangat persatuan. Ditengah derasnya arus informasi dan perbedaan pandangan yang mudah ditemukan di dunia digital, generasi muda diharapkan mampu menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

“Di media sosial, kita bisa berbeda pilihan, berbeda pendapat, bahkan berbeda latar belakang. Tetapi perbedaan itu jangan sampai membuat kita saling bermusuhan. Inilah pentingnya semangat persatuan dan Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya.

Arif juga mengingatkan para siswa agar menjadi generasi yang cerdas dalam menggunakan media sosial. Kemampuan memilah informasi, melakukan verifikasi sebelum membagikan konten, serta menghindari penyebaran hoaks dan ujaran kebencian dinilai sebagai salah satu bentuk nyata penerapan nilai-nilai Pancasila di era digital.

Untuk itulah relevansi Pancasila bagi Gen-Z justru semakin kuat karena generasi ini memiliki ruang yang luas untuk menyuarakan gagasan melalui teknologi. Kebebasan tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab, etika, dan kesadaran bahwa setiap tindakan di ruang digital dapat berdampak kepada orang lain.

“Pancasila bukan sesuatu yang kuno. Pancasila justru menjadi kompas bagi generasi muda dalam menggunakan kebebasan dan kemajuan teknologi secara bertanggung jawab,” tegas Arif.

Lebih lanjut, ia mengajak para siswa SMK TUAH Negeri untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi generasi yang produktif, kreatif, inovatif dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan, menurutnya, harus berjalan seiring dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Kegiatan sosialisasi tersebut mendapat perhatian dan antusiasme dari ratusan siswa yang hadir, juga diikuti oleh Kepala Sekolah dan Para jajaran Guru. (Rls)

Ikuti LIPO Online di GoogleNews

#Sosiallisasi

Index

Berita Lainnya

Index