PEKANBARU, LIPO - Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Provinsi Riau resmi dilantik oleh Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Jalan Diponegoro, Pekanbaru, Sabtu (15/08/26).
Pelantikan tersebut menandai dimulainya kepengurusan baru Pergunu Riau sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat peran guru dan pesantren dalam membangun sumber daya manusia serta menjaga cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Dalam pelantikan tersebut, KH Asep Saifuddin Chalim melantik Ketua PW Pergunu Riau Masita bersama puluhan pengurus lainnya. Acara turut dihadiri Ketua LAM Riau Taufik Ikram Jamil, Ketua PWNU Riau KH Mahlli, pejabat Pemko Pekanbaru Ingot Ahmad Hutasuhut, serta sejumlah kiai, santri, dan perwakilan pondok pesantren di Provinsi Riau.
Dalam amanatnya, KH Asep menegaskan bahwa Pergunu harus mampu menjadi suluh perjuangan para guru di Provinsi Riau. Menurutnya, Pergunu tidak cukup hanya hadir sebagai organisasi yang menaungi para guru, tetapi harus mampu menjadi wadah yang memberikan arah, penguatan, pendampingan, serta membangun semangat perjuangan para pendidik.
"Pergunu harus menjadi suluh perjuangan para guru. Guru bukan hanya bertugas mengajar, tetapi memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan masa depan bangsa," ujar KH Asep dalam amanatnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah itu mengingatkan bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia memiliki hubungan yang kuat dengan pesantren. Menurutnya, pesantren sejak masa penjajahan telah menjadi salah satu pusat pembentukan karakter, kesadaran kebangsaan, dan semangat perjuangan yang digerakkan oleh para kiai bersama para santri.
Ia menjelaskan, pesantren pada masa lalu tidak sekadar menjadi tempat menimba ilmu agama. Di dalamnya juga berlangsung proses pembinaan mental dan karakter santri agar memiliki keberanian, kemandirian, serta kecintaan terhadap bangsa dan tanah air. Dari lingkungan pesantren pula, kata dia, lahir semangat perlawanan terhadap penjajahan.
Namun, KH Asep menilai bentuk perjuangan tersebut harus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Jika dahulu perjuangan pesantren diarahkan untuk menghadapi penjajahan secara langsung, maka saat ini perjuangan tersebut harus diwujudkan melalui pendidikan dan pembangunan bangsa.
"Dulu pondok pesantren didirikan sebagai upaya melawan penjajahan melalui pembinaan para santri. Sekarang tidak lagi untuk berperang, tetapi untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yaitu negara Indonesia yang adil dan makmur," katanya.
Karena itu, KH Asep mendorong para guru dan pengelola pondok pesantren melakukan transformasi orientasi pendidikan. Transformasi tersebut, menurutnya, penting agar pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi mampu melahirkan generasi yang memiliki kompetensi, karakter, tanggung jawab sosial, dan kesadaran untuk meneruskan cita-cita perjuangan bangsa.
"Guru dan pesantren harus melakukan transformasi. Orientasi perjuangan harus disesuaikan dengan tantangan zaman, tetapi semangatnya tetap sama, yakni menjaga dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan," tegasnya.
Ketua PW Pergunu Riau Masita mengatakan pelantikan tersebut merupakan amanah sekaligus titik awal bagi jajaran pengurus untuk bekerja lebih nyata dalam memperkuat posisi dan kapasitas guru di Riau. Ia menegaskan Pergunu Riau akan berupaya membangun organisasi yang mampu memberikan manfaat langsung bagi para guru, khususnya dalam peningkatan kompetensi dan profesionalisme.
"Pelantikan ini bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan amanah dan awal bagi kami untuk bergerak bersama memperjuangkan kepentingan serta peningkatan kualitas guru di Provinsi Riau. Kami ingin Pergunu hadir dan dirasakan manfaatnya oleh para guru," ujar Masita.
Masita menambahkan, kepengurusan Pergunu Riau ke depan akan mendorong berbagai program yang dapat memperkuat kapasitas guru sekaligus membangun sinergi dengan pemerintah, lembaga pendidikan, pesantren, organisasi keagamaan, dan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks membutuhkan kolaborasi dan komitmen bersama.
Ia berharap Pergunu Riau dapat menjadi ruang bersama bagi para guru untuk meningkatkan kapasitas, bertukar gagasan, memperkuat profesionalisme, sekaligus mengambil bagian dalam pembangunan sumber daya manusia di Riau. Dengan demikian, guru tidak hanya menjadi pelaksana pendidikan di ruang kelas, tetapi juga menjadi kekuatan intelektual dan moral dalam kehidupan masyarakat.
Selain melantik PW Pergunu Riau, KH Asep Saifuddin Chalim dalam rangkaian kegiatan yang sama juga melantik Pengurus Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Provinsi Riau. Pelantikan tersebut diharapkan semakin memperkuat jejaring kiai, santri, guru, dan berbagai elemen masyarakat dalam membangun sinergi untuk kemajuan pendidikan dan pembangunan Provinsi Riau, sekaligus meneruskan perjuangan untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur.*****