PEKANBARU, LIPO - Anggota Komisi III DPRD Riau, Abdullah, mendukung rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau membentuk anak perusahaan yang akan mengelola sektor perkebunan sawit.
Menurut Abdullah, badan usaha yang dibentuk perlu memiliki kemampuan permodalan yang kuat. Ia menyebut Riau Petroleum (RP) sebagai salah satu pihak yang dinilai memiliki peluang untuk menjalankan bisnis tersebut karena memiliki potensi dukungan modal dari participating interest (PI).
"RP dianggap saat ini punya modal, nantinya dari PI. Dari dulu saya meminta ini disegerakan," kata Abdullah, Kamis 3 September 2026.
Ia mengatakan, sebelumnya PT Agrinas Palma Nusantara (Agrinas) juga berencana memberikan pengelolaan perkebunan sawit kepada Pemprov Riau. Namun, menurutnya, pemerintah daerah diminta segera menentukan badan hukum untuk menerima dan mengelola aset atau perkebunan tersebut.
"Kita tunggu saja. Pak Gubernur katanya sudah mau membuat. Sudah ada pertemuan dan pembahasan untuk pembentukan anak perusahaan untuk sawit," ujarnya.
Politisi PKS ini juga menyinggung rencana pengelolaan lahan sawit dalam skala besar. Ia menyebut sebelumnya ada tawaran sekitar 20 ribu hingga 40 ribu hektare untuk dikelola badan usaha milik daerah (BUMD).
Namun, ia mengingatkan agar pengelolaan lahan tidak dilakukan secara terpencar. Menurutnya, lahan yang dikelola sebaiknya berada dalam satu kawasan yang jelas agar lebih efisien dan mudah dikembangkan.
"Jangan seribu di sini, seribu di sana. Kalau satu titik, misalnya 20 ribu atau 10 ribu hektare, lebih baik," jelasnya.
Selain mengelola perkebunan, Abdullah berharap BUMD tidak hanya berfokus pada bisnis kebun sawit. Menurutnya, ada banyak peluang usaha dari hasil turunan sawit yang dapat dikembangkan.
Ia mencontohkan pemanfaatan tandan kosong (tankos) kelapa sawit yang dapat diolah menjadi pelet sebagai salah satu peluang bisnis di sektor energi baru dan terbarukan.
"Jadi intinya kita mendukung gerakan pemerintah melalui BUMD. Bahkan tidak hanya mengurus kebun. Hilirisasi dari kebun itu apa, harusnya BUMD bergerak sampai energi baru terbarukan," katanya.
Menurut Abdullah, pengembangan bisnis turunan sawit dapat membuka sumber pendapatan baru bagi daerah sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan.
"Misalnya turunan dari tankos dibuat pelet. Harusnya BUMD bisa ambil bisnis itu. Banyak peluang pendapatan dan membuka lapangan kerja," pungkasnya.*****