Ironi! Antre BBM Berjam-jam di Negeri Kaya Minyak, Ekonom Minta Pertamina Berbenah

Ironi! Antre BBM Berjam-jam di Negeri Kaya Minyak, Ekonom Minta Pertamina Berbenah
Antri BBM di SPBU di Kota Pekanbaru/F: LIPO

PEKANBARU, LIPO - Meski dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak terbesar di Indonesia, masyarakat di Riau justru harus menghadapi antrian panjang BBM dalam beberapa hari terakhir. Warga rela menunggu berjam-jam di SPBU untuk mendapatkan bahan bakar dalam jumlah terbatas.

Ekonom senior dari Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, menilai kondisi tersebut sudah menjadi persoalan rutin yang membebani masyarakat. Ia menyebut antrean panjang di SPBU kini seolah menjadi pemandangan sehari-hari di tengah status Riau sebagai daerah kaya sumber daya minyak.

Menurut Dahlan, kelangkaan BBM yang terjadi belakangan ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan masyarakat. Situasi tersebut diperparah oleh distribusi yang dinilai belum berjalan optimal dan kurang transparan.

Ia menjelaskan, gangguan pada infrastruktur kilang dan rantai pasok menjadi salah satu penyebab utama terganggunya distribusi BBM di daerah. Dahlan menyinggung kondisi kilang di Dumai yang kerap mengalami kendala, sehingga berdampak langsung terhadap ketersediaan solar maupun pertalite di wilayah sekitar.

“Ketika satu kilang mengalami masalah, efeknya bisa langsung dirasakan masyarakat dalam bentuk kelangkaan BBM. Pasokan menjadi tidak stabil dan antrean di SPBU pun sulit dihindari,” ujarnya, Kamis 7 Mei 2026.

Sebagai solusi, Dahlan mendorong penerapan sistem digitalisasi distribusi BBM agar kondisi stok di setiap SPBU dapat dipantau secara real-time. Dengan sistem tersebut, masyarakat dinilai tidak perlu lagi berkeliling mencari SPBU yang masih memiliki pasokan.

Selain membantu masyarakat, digitalisasi juga diyakini mampu meningkatkan transparansi distribusi dan memperkuat pengawasan agar penyaluran BBM lebih tepat sasaran.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi digital tidak akan cukup jika persoalan produksi di sektor hulu belum dibenahi. Menurutnya, sistem monitoring hanya membantu pengaturan distribusi, tetapi tidak bisa menambah pasokan jika produksi mengalami hambatan.

Dahlan juga menyoroti pentingnya perbaikan manajemen risiko di kilang-kilang Pertamina. Ia menilai insiden kebakaran yang pernah terjadi di kilang Dumai, Cilacap, dan Balikpapan menjadi peringatan bahwa infrastruktur energi nasional masih membutuhkan pembenahan serius.

Karena itu, ia meminta Pertamina melakukan evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur kilang dan sistem distribusi BBM agar ketahanan energi nasional lebih terjamin.

Untuk penanganan jangka pendek, Dahlan menyarankan agar distribusi BBM diprioritaskan ke SPBU yang berada di jalur utama transportasi dan logistik guna mencegah kekosongan stok.

Selain itu, pengawasan distribusi BBM subsidi juga perlu diperketat untuk mengantisipasi praktik penimbunan maupun penjualan kembali dengan harga lebih tinggi.

Ke depan, ia menilai pemerintah perlu melakukan pembenahan sistem energi dan transportasi secara menyeluruh, termasuk pemerataan pembangunan SPBU, penguatan transportasi publik, serta mendorong penggunaan kendaraan hemat energi dan elektrifikasi armada transportasi.*****

 

Ikuti LIPO Online di GoogleNews

#BBM

Index

Berita Lainnya

Index